Kesehatan Diabetisi di Masa Pandemi

Diabetes Melitus (DM) saat ini tengah menjadi ancaman global. Menurut hasil Riset Kesehatan Dasar pada tahun 2018, 8,5% atau sekitar 20,4 Juta orang Indonesia menderita DM. World Health Organization memperkirakan akan ada kenaikan jumlah penderita DM pada tahun-tahun mendatang. DM merupakan salah satu penyakit metabolik yang ditandai dengan meningkatkannya kadar glukosa darah yang melebihi normal karena adanya kelainan sekresi insulin, kerja insulin, atau keduanya. Berdasarkan penyebabnya, DM dapat dibagi menjadi DM tipe 1, DM tipe 2, DM pada kehamilan, dan DM tipe lain. Keluhan klasik DM yang biasa ditemui seperti poliuria (sering pipis), polidipsi (selalu marasa haus), polifagia (selalu merasa lapar) dan penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan sebelumnya. Sering sekali pasien tidak datang dengan gejala klasik, namun gejala lain seperti badan terasa lemah, gatal-gatal, pandangan kabur, dan disfungsi ereksi. Faktor risiko yang berkaitan dengan DM antara lain terdapat faktor keturunan DM dalam keluarga, usia (> 45 tahun), aktivitas fisik yang kurang, kelompok ras tertentu (Asia & Afrika), kegemukan, dan kehamilan. DM dapat menimbulkan komplikasi berupa gangguan pembuluh darah mikrovaskular ataupun makrovaskular dan gangguan saraf. Komplikasi tersebut dapat terjadi pada penderita DM lama ataupun penderita DM yang baru.

DM merupakan salah satu penyakit penyerta (komorbid) tertinggi kedua yang menjadi faktor risiko utama dalam peningkatan keparahan Pneumonia Berat dan Sepsis pada infeksi COVID-19. Menurut data yang dihimpun oleh Satuan Tugas COVID-19 per tanggal 13 Oktober 2020, dari seluruh pasien yang terkonfirmasi positif COVID-19, 1.488 pasien tercatat memiliki penyakit penyerta di mana 50.5% menderita penyakit hipertensi, 34,5% dengan diabetes melitus, dan 19,6% penyakit jantung. Sementara sebanyak 11.6% pasien COVID-19 dengan komorbid DM meninggal dari 1.488 kasus positif COVID-19.

Pada pandemi seperti ini, para diabetisi dapat melakukan konsultasi secara online dengan dokter dan petugas kesehatan terkait follow-up obat antidiabetes, titrasi insulin, hipoglikemia maupun hiperglikemia. Selain itu, pengukuran kadar gula darah secara teratur pun dibutuhkan para diabetisi di saat pandemi seperti ini. Kadar gula yang terkontrol dapat menurunkan risiko dan keparahan terhadap berbagai macam infeksi termasuk infeksi COVID-19. Menjaga kadar gula darah agar selalu terkontrol merupakan salah satu cara yang efektif untuk mencegah transmisi penularan COVID-19 pada orang dengan DM.

Asupan diet yang tepat dan aktivitas fisik juga hal yang penting untuk diperhatikan oleh para diabetisi. Sayangnya ditengah pandemi ini, terdapat pembatasan aktivitas fisik di luar rumah. Namun, tidak perlu khawatir karena para diabetisi tetap bisa melakukan olahraga dan beraktivitas fisik yang nyaman dan aman di rumah. Aktivitas fisik yang teratur dapat meminimalisir peningkatan berat badan, menurunkan kadar gula darah postprandial, mengurangi nyeri punggung, kembung, dan bengkak, serta dapat meningkatkan kebahagiaan. Selain itu, para diabetisi juga harus memperhatikan perawatan kaki mereka seperti menggunakan alas kaki yang tepat dan nyaman, mengindari benda tajam, dan rutin melakukan senam kaki. Senam kaki dapat membantu memperbaiki sirkulasi darah dan memperkuat otot-otot kaki dan mencegah terjadinya kelainan (deformitas) bentuk kaki.

Hal penting lainnya yang harus diperhatikan oleh diabetisi dan perawatnya adalah kesehatan mental. Keharusan untuk membatasi aktivitas di luar dan pembatasan untuk bertemu dengan orang lain akibat pandemi COVID-19 sudah pasti akan membuat stres tersendiri. Untuk itu, dibutuhkan dukungan keluarga dan sosial yang baik untuk meringakan stres. Mengurangi untuk menonton dan membaca berita tentang COVID-19 pun dapat dilakukan untuk menimimalisir stres. Ketika beraktivitas di rumah saja, diabetisi dapat melepaskan penat dengan menghabiskan waktu bersama orang-orang tersayang.

Diabetisi sangat dianjurkan untuk tetap berada di dalam rumah dan hanya dianjurkan keluar rumah bila ada urusan yang sangat penting. Bila keluar rumah pun, tetap menerapkan protokol kesehatan, seperti memakai masker, menjaga jarak satu meter, dan rajin mencuci tangan. Bila ada masalah kesehatan, diabetisi sangat dianjurkan untuk segera memeriksakan atau berkonsultasi dengan dokter di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama.

Penerapan perilaku hidup sehat untuk para diabetes dapat dilakukan sebagai langkah pencegahan yang perlu diterapkan agar tidak terkena penyakit menular. Perilaku hidup sehat tersebut antara lain:
1. Cek kesehatan secara berkala (monitor berat badan, tekanan darah, lingkar perut, cek kadar gula darah, dan kolesterol secara teratur)
2. Enyahkan asap rokok
3. Rajin melakukan aktivitas fisik/berolahraga 30 menit perhari sebanyak 3-5 kali per minggu (Ada banyak video-video olahraga dan juga kelas olahraga online yang bisa diikuti selama pandemi.)
4. Diet sehat dan seimbang (Batasi konsumsi gula dan garam, melakukan diet sehat seimbang yakni mengonsumsi buah dan sayur 5 porsi per hari)
5. Istirahat cukup (tidur 7-8 jam sehari)
6. Kelola stres (selalu berpikiran positif, menghabiskan waktu di rumah saja dengan orang-orang tersayang)

Artikel oleh:
dr. Zahra Mustavavi, MMR
National Public Health Officer of CIMSA 2013-2014

Referensi :

Doreen Macherera Mukona, M. Z. (2020). Self-Management of Diabetes Melitus during COvid-19 pandemic : Recommendation for a resources limites setting. Elsevier , 1575-1578.
Kementrian Kesehatan Direktorat Promosi kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat. (2019, September 17). Retrieved November 1, 2020, from https://promkes.krmkrd.go.id/cerdik-rahasia-masa-muda-sehat-dan-masa-tua-nikmat
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. (2020, Oktober 13). Retrieved November 1, 2020, from www.kemkes.go.id/artivle/print/201014000002/13-2-persen-pasien-covid-19-yang-meninggal-memiliki-penyakit-hipertensi.html
Soelistijo, S. A. (2019). Pedoman Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 Dewasa di Indonesia. PB PERKENI.